Skip to main content

Mystus singaringan (Bleeker, 1846) a.k.a. Senggaringan

 

    Sebagian orang, akan mengatakan spesies ini adalah lele, patin ataupun keting, namun secara nasional, Mystus singaringan dikenal sebagai senggaringan. Nama ini serupa nama lokalnya di beberapa tempat di Pulau Jawa, pastinya dengan variasi penyebutan yang khas di berbagai tempat tersebut. Sebagai contoh, spesies ini dikenal di kota-kota sekitar tempat penulis di Jawa Timur, sebagai 'garingan', 'kebo gerang' dan lain sebagainya, dengan kata dasar yang mirip-mirip dengan senggaringan. Nama ini, termasuk nama spesiesnya, penulis curigai betul memang disesuaikan dengan penyebutan ikan ini di Pulau Jawa, sebab deskripsi awal ikan inipun, menggunakan populasi di Barat Pulau Jawa. Jika disebut lele, ia memang masuk pada ordo Siluriformes, sebagaimana unggahan penulis terkait Clarias batrachus sebelumnya. Jika disebut patin, penulis kurang yakin dapat mencari pembenaran, namun keduanya, baik M. singaringan dari keluarga Bagridae dan patin dari keluarga Pangasiidae, memiliki sirip adiposa (note: terdiri atas jaringan lemak), dan kekerabatan mereka memang begitu dekat. Jika disebut keting, sebutan ini yang paling mendekati, sebab umumnya keting merupakan sebutan bagi ikan-ikan pada keluarga Bagridae dan Ariidae, kendati demikian tetap saja paling aman untuk menyebut M. singaringan sebagai senggaringan. Jangan tanya mengapa ia dipanggil demikian, namun jika pembaca memiliki pendapat, let me know, penulis akan sangat senang membaca komentar pembaca. Baik, seperti biasa, meski sudah disinggung dalam paragraf ini, namun mari kita mulai dari klasifikasi atau taksonomi dasar ikan M. singaringan lebih dahulu.


Klasifikasi Dasar

Ordo:
    Siluriformes (Lele)
Keluarga:
    Bagridae (Keting atau lele bagrid)
Genus:
    Mystus
Spesies:
    M. singaringan


Penulis rasa, pada tingkat ordo, sebagaimana penulis jelaskan di tulisan sebelumnya terkait C. batrachus, kita harusnya tak lagi berdebat masalah sebutan lele itu sendiri, sebab penulis akan mengambil kata lele untuk menggantikan kata catfish (laman C. batrachus, klik di sini). Pastinya, secara umum anggota ordo Siluriformes memiliki kumis, atau dalam kajian ilmiah, disebut sebagai barbel. Secara umum, termasuk pada M. singaringan, ada tiga jenis barbel, yaitu barbel nasal di sekitar lubang hidung, barbel maksila di rahang atas dan barbel mandibula di rahang bawah (Gambar 1). Beberapa anggota ordo Siluriformes mungkin mengalami reduksi pada sebagian jenis barbel, namun pada M. singaringan, setiap jenis barbel memiliki panjang yang mudah diamati. Penulis ingin menjabarkan secara utuh ordo Siluriformes, namun sepertinya, penulis harus cukupkan sedikit demi sedikit, hingga penulis cukup yakin untuk membuat unggahan khusus terkait ordo luar biasa ini. Sementara, informasi terkait ordo siluriformes dapat pembaca akumulasikan dari unggahan-unggahan penulis dengan label tersebut. 


Gambar 1. Keterangan jenis-jenis nasal pada M. singaringan. AFP

    Membahas sedikit tentang barbel, nama ini diambil dari bahasa latin yaitu barbula, artinya jenggot kecil. Seperti yang sudah bisa ditebak, ini adalah organ sonsori untuk membantu ikan mencari makanan, terutama di air keruh. Barbel sebenarnya adalah organ yang umum pada ikan, beberapa ikan di luar ordo Siluriformes, juga memilikinya, meski tak jarang hanya satu atau dua jenis barbel saja, tidak selengkap dan juga sepanjang milik M. singaringan bersama kerabat-kerabatnya. Sebagai contoh, adalah keluarga ikan mas (Cyprinidae), umumnya mereka hanya memiliki barbel maksila. Uniknya, tidak seluruh anggotanya memiliki barbel, seperti Cyclocheilichthys apogon atau ikan wader gunung, mereka tak memiliki satupun jenis barbel. Sebagaimana proporsi barbel yang sangat beragam dalam Siluriformes, semua kembali pada seleksi alam masing-masing spesies. Pertanyaan kritisnya, apakah ada anggota ordo Siluriformes yang tidak berkumis? Ssst, mungkin ini agak tabu, tapi nyatanya memang ada, Batrachocephalus mino dari keluarga Ariidae, keluarga dengan morfologi paling mirip ke Bagridae.

    Berkenalan dengan keluarga Bagridae, keluarga yang cukup merepotkan bagi penulis pribadi, terutama fakta bahwa keluarga ini masih umum mengalami misidentifikasi silang dengan keluarga Ariidae, toh beberapa anggota dalam Bagridae dan Ariidae memang umum disebut keting. Keluarga Bagridae menaungi 238 spesies di seluruh dunia, dan ada sekitar 62 spesies di Indonesia. Penulis yakin, jika melihat spesies-spesies di dalamnya, terutama dari genus selain Mystus dan Hemibagrus, maka pembaca akan berpikir, bahwa anggota Ariidae seperti dari genus Arius, lebih dekat ke Mystus dibandingkan genus lain dalam Bagridae. Jika ditanya secara langsung perbedaan keluarga Bagridae dan Ariidae, jujur saja harus penulis tanamkan pada pembaca, bahwa buku identifikasi secara sistematis di air tawar, masih sangat sulit didapati. Hal ini menyebabkan penulispun tak sebegitu yakin untuk Bagridae, namun jika dilihat dari habitat, sebenarnya kedua keluarga ini, mendapat imbuhan nama yang berbeda. 

    Bagridae, terutama genus Mystus umumnya disebut keting air tawar, maupun keting tambak (note: sebab spesies seperti Mystus gulio, sering ditemukan di air payau, di sekitar tambak), sedangkan Ariidae adalah keting laut. Intinya, Bagridae cenderung di air tawar dan Ariidae cenderung di laut, namun keduanya memiliki anggota yang juga sering ditemukan di air payau. Baiklah, sepertinya akan susah jika penulis tak menuangkan opini penulis tentang perbedaan kedua keluarga ini, sayangnya penulis belum mendapat literatur yang benar-benar membandingkan keduanya. Perlu diingat, bahwa dalam pengamatan ini, penulis sangat bisa melakukan kesalahan, namun setidaknya, ini adalah temuan sementara penulis:

  1. Barbel nasal tidak ditemukan pada anggota keluarga Ariidae, namun ditemukan di sebagian besar anggota keluarga Bagridae. Hal ini dapat menjadi praduga awal, terutama dalam menentukan keluarga keting yang kita dapat, selain melihat habitat mereka.
  2. Sirip adiposa selalu kecil pada anggota keluarga Ariidae, namun acap kali besar dan panjang pada anggota keluarga Bagridae. Kendati spesies seperti M. gulio memiliki sirip adiposa berukuran kecil, setidaknya banyak anggota dengan sirip adiposa besar dan atau panjang. Sebagian anggota keluarga Bagridae memiliki sirip adiposa yang begitu panjang, dan menjangkau seluruh bagian dorsal atau punggung pasca sirip pertama, hingga ke sekitar pangkal ekor, seperti pada M. singaringan. Pengamatan sirip adiposa ini, juga dapat dijadikan praduga awal selanjutnya.
  3. Bauran warna anggota keluarga Ariidae tidak terlalu mencolok dari segi keberagaman, namun umumnya bagian sisi tubuh mengkilat, baik silver maupun tembaga; bauran warna anggota keluarga Bagridae sangat beragam, dari polos keabuan hingga hitam legam, kuning bahkan transparan, namun dengan sisi tubuh yang umumnya tidak mengkilat. Kilatan warna yang dimaksud, adalah kilatan dari kulit, bukan dari lendir atau mukus, hal ini kemungkinan disebabkan habitat Ariidae yang condong ke laut, sebagai adaptasi dalam berkamuflase. Penciri ketiga ini, penulis sadari terikat oleh banyak hal, seperti jenis, kesegaran ikan, lingkungan dan lain sebagainya, namun secara umum, dapat menjadi praduga pendukung yang sangat berguna.

Sebenarnya, penulis yakin betul perbedaan kedua keluarga ini ada pada osteologinya (note: berkaitan dengan struktur tulangnya), terutama pada tengkoraknya (penulis curiga pada bagian supraokupital Ariidae, yaitu bagian paling belakang pada tengkoraknya, yang terlihat berserat dari luar), namun sebelum penulis menemukan literatur yang menjelaskan itu, untuk sekarang penulis tidak berani bicara banyak. Penulis akan suguhkan pembaca gambaran umum Ariidae dan Bagridae (Gambar 2), atau lebih lengkapnya, pembaca dapat mencari di mesin pencarian.

Gambar 2. Gambaran umum Ariidae, serta beberapa keterangan dugaan perbedaan dengan Bagridae, sebagai kunci identifikasi. Pembaca dapat mencocokkannya dengan penomoran pada penjelasan dugaan penciri kunci identifikasi keduanya. AFP

    Sepertinya (dan penulis yakin demikian), untuk merumuskan perbedaan tingkat genus dalam keluarga ini sekarang, bukanlah pekerjaan mudah, sebab ada sekitar 10 genera dilaporkan, ditemukan di Indonesia. Genera dalam Bagridae yang ada di Indonesia selain Mystus, adalah Bagrichthys, Bagroides, Hemibagrus, Hemileiocassis, Hyalobagrus, Leiocassis, Nanobagrus, Pseudomystus, dan Sundolyra. Jika pembaca tinggal di Pulau Jawa, maka sebenarnya, genus yang umum ditemukan hanya Mystus dan Hemibagrus, selebihnya tidak ada, atau kecil sekali kemungkinan ditemukan, jika memang persebarannya alami. Genus Mystus sendiri masih menyisakan banyak perdebatan, sebab kurangnya literatur sistematis dalam merumuskan mereka. Genus Mystus diklaim merupakan anggota Bagridae berukuran kecil hingga sedang (Chakrabarty & Ng, 2005), dengan catatan terbesar yaitu M. gulio dengan panjang 46 cm dalam panjang total (TL). Meski begitu, penulis menaruh curiga pada M. gulio, sebab selama ini, M. gulio yang kami pernah temui, terbesar hanya sekitar 25 cm, itupun sudah sangat besar sekali bagi ukuran M. gulio, sebab umumnya tertangkap di bawah 15 cm. Spesies terkecil? dalam catatan, kemungkinan adalah Mystus carcio dengan panjang maksimal 5 cm dalam panjang standart (SL). Hal ini masuk akal, sebab mantan anggota genus ini, yang sekarang dikenal dengan genus Hemibagrus, memiliki ukuran dari kecil hingga besar, dari Hemibagrus hongus dengan ukuran maksimal 8,8 cm, hingga Hemibagrus maydelli dengan ukuran 165 cm dalam TL. Sebenarnya, penulis sendiri bingung, mengapa kedua genus yaitu Mystus dan Hemibagrus dipisah, sebab awalnya mereka ada pada satu genus yang sama, dan berbagi karakter serupa, sebagaimana pada literatur identifikasi terdahulu (Jayaram & Sanyal, 2003). Ah, penulis belum bisa merumuskan perbedaan pada tingkat genus, terutama unruk Mystus dan Hemibagrus, karena penulis memiliki catatan pribadi yang bertentangan dengan pemisahan ini, entahlah, namun penulis coba hadirkan gambaran kasar kedua genus tersebut (Gambar 3). Intinya, genus ini masih sangat ambigu, namun ada beberapa sorotan dalam identifikasi spesies anggota keluarga Bagridae secara umum.

Gambar 3. Gambaran umum genus Mystus dan genus Hemibagrus, yang kini dianggap valid, meski dahulu sempat menjadi satu dalam genus Mystus. Pemisahan ini masih ambigu bagi penulis. AFP

    Beberapa karakter penciri untuk memisahkan antar anggota Bagridae, pernah disinggung pada penelitian di Korea (Chung-Lyul & Ik-Soo, 1990), meski penelitian tersebut tidak membahas terkait genus Mystus. Dalam membedakan genera dijelaskan, bahwa sebagian menganggap kajian bentuk tubuh dan ekor adalah kuncinya, meski untuk bentuk ekor, ada yang membantah keras. Lalu sebagian menganggap panjang barbel dan struktur duri sirip pektoral adalah kuncinya, dan sebagian lain menganggap kuncinya adalah ada pada besar mata dan panjang sirip adiposa. Kompleks bukan perdebatan ini? Kendati demikian, penulis akan tunjukkan bagian-bagian yang dicurigai sebagai karakter kunci tersebut, sebab artinya untuk beberapa spesies atau genus, sebagian karakter mungkin memang begitu signifikan (Gambar 4). Penulis pikir, pembaca telah mendapatkan alasan yang cukup untuk memaklumi penulis terkait kerancuan ini, penulis tak bisa memastikan untuk sekarang, namun jika ada informasi baru, penulis dapat merevisi tulisan ini di kemudian waktu. Sekarang, mari kita mulai membahas M. singaringan!

Gambar 4.  Beberapa dugaan karakter kunci morfologi antar genus dalam keluarga Bagridae. AFP

    Penciri mencolok secara sekilas pada M. singaringan adalah kombinasi sirip adiposa, panjang barbel dan warna tubuhnya yang cenderung polos keabuan. Penulis rasa identifikasi spesies ini tergolong mudah, kecuali jika kita sekalian bahas spesies termirip dengan M. singaringan, yaitu Mystus nigriceps, meskipun telah dengan serampangan, M. nigriceps diklaim sebagai nama sinonim dari M. singaringan pada artikel ilmiah penelitian di Purbalingga (Pramono et al., 2019a). Kesalahan tersebut diperkuat dengan penelitian sambungannya dimorfisme seksual (read. perbedaan jantan dan betina) pada M. singaringan (Pramono et al., 2019b). Penelitian tersebut menampilkan dua gambar perwakilan sampel jantan dan betina, namun dari pengamatan penulis, keduanya kemungkinan adalah ikan yang berbeda. Penelitian tersebut mengklaim spesimen betina dengan benar, yaitu M. singaringan, namun spesimen jantan lebih menyerupai M. nigriceps (Gambar 5). Kendati penulis bisa jadi salah dalam identifikasi ini, sebab dokumentasi yang kurang proper bagi penulis, namun tetap saja kedua nama spesies tersebut bukan sinonim. Sebenarnya, perbedaan jantan dan betina pada M. singaringan sangat mudah dilihat dari genital papilla (read. kelamin sekunder) ikan ini, sebab pejantan memiliki genital papilla yang cukup jelas dan memanjang, dan sayangnya tidak disinggung dalam metode penelitian tersebut sama sekali.

Gambar 5. Dokumentasi dan pengukuran seksual dimorfisme Mystus singaringan (Pramono et al., 2019b) yang berpotensi mengalami misidentifikasi. Spesimen jantan (bawah), penulis curigai sebagai M. nigriceps.

    Kesalahan identifikasi M. singaringan dan M. nigriceps sebenarnya telah disinggung sedari lama, termasuk pada penelitian tentang identifikasi M. nigriceps dan Mystus castaneus (Hee, 2002). Sekali lagi, kedua spesies ini bukanlah sinonim, meski nampaknya ada kesalahan kunci identifikasi pada literatur yang sempat saya singgung untuk identifikasi genus Mystus (Jayaram & Sanyal, 2003). Kedua spesies, M. singaringan dan M. nigriceps telah dideklarasikan sebagai benar-benar spesies yang berbeda, pada penelitian seorang ikhtiologist ternama (Roberts, 1993), dengan menyatakan bahwa M. singaringan (note: ketika itu disebut Mystus macronema), memang berbeda dari informasi holotype M. nigriceps, atau terkadang disebut M. micracanthus pada saat itu. Penulis coba hadirkan gambaran umum kedua spesies tersebut, dengan perbedaan paling mudah secara praktik bagi penulis, adalah melihat pada pangkal ekornya, sebab proporsi pangkal ekor M. nigriceps cenderung lebih tebal, tidak mengecil di pertengahan seperti M. singaringan. Lebih jauh juga jari-jari nomor dua dan tiga sirip dorsal pertama M. singaringan umumnya lebih panjang dari jari-jari pertama. Lebih lengkapnya, penulis berencana untuk membuat tulisan terpisah terkait M. nigriceps, jadi mari kita cukupkan.

    Deskripsi M. singaringan agak susah dicari, kemungkinan disebabkan tidak adanya artikel ilmiah yang memperbarui informasi tersebut. Kendati demikian, kita bisa melihat deskripsi singkat (atau mungkin terlalu singkat), dari publikasi yang sempat kita singgung sebelumnya (Roberts, 1993). Dalam publikasi tersebut, dikatakan bahwa gillrakers (note: seperti struktur gigi tambahan pada busur insang) dari M. singaringan berjumlah 6 atas 16 bawah, total 22 buah (umumnya dalam perhitungan seperti ini, yang diambil adalah busur insang terdepan), dengan tulang belakang atau vertebra 21 depan 21 belakang, total 42 buah (adapun yang menyatakan sampai 45 buah). Sejauh ini, informasi yang benar-benar bisa kita dapat secara morfologi (read. kajian fisik) untuk M. singaringan adalah sekedar ini, dapat dibantu dengan illustrasi (Gambar 6). 


Gambar 6. Ilustrasi karakter kunci M. singaringan berdasarkan literatur (Roberts, 1993) dan dugaan penulis. AFP  

    Sebenarnya ada satu referensi yang menyinggung detail, baik penciri genus maupun spesies dari M. singaringan, namun penulis memiliki keraguan, sehingga penulis ingin lewatkan. Ah, nampaknya tidak adil juga, baiklah, penulis akan hadirkan illustrasinya tanpa menjelaskan banyak (Gambar 7), namun perlu diingat bahwa referensi ini (Rainboth, 1996), memiliki banyak informasi terkait Bagridae, yang mungkin tidak sesuai. Contohnya adalah hitungan gillrakers yang diklaim 22-26 buah hanya pada bagian bawah (kemungkinan ada kesalahan redaksi di referesi tersebut), dan illustrasi pada referensi. Dalam referensi, illustrasi diklaim sebagai M. nigriceps, sementara setelahnya ada M. micracanthus (ada potensi kebingungan pada saat penyusunan). Spesies M. nigriceps sendiri disebutkan pada referensi, belum ditemukan di daerah penelitian (Sungai Mekong), hal ini termasuk illustrasi di dalamnya, merujuk pada literatur tahun 1913 (Weber & de Beaufort, 1913), dan memang saat itu belum ada revisi seperti dijelaskan sebelumnya, terkait penggabungan M. nigriceps dan M. micracanthus (Roberts, 1993). Seluruh penciri di dalam referensi tersebut (Rainboth, 1996), bisa jadi belum mengikuti temuan terbaru, namun memang juga patut dipertimbangkan. Pada literatur tahun 1913 tersebut (Weber & de Beaufort, 1913), genus Mystus masih disebut Macrones, dan juga tidak ada deskripsi jelas M. singaringan di sana, kecuali M. nigriceps dan M. micracanthus. Sebenarnya, perbedaan kedua spesies (M. singaringan dan M. nigriceps) sangat terlihat di Pulau Jawa, namun di luar itu, mungkin akan sangat susah. Di beberapa daerah di Pulau Jawa, M. nigriceps disebut lundu dan M. singaringan disebut keting. Kesimpulannya? Memang harus ada kajian mendalam, haha, kami dari SOFS siap berkolaborasi, hubungi email penulis (akhsanfp@gmail.com) jika tertarik.

Gambar 7. Penciri kunci M. singaringan berdasarkan literatur (Rainboth, 1996). Penciri dengan imbuhan '*' merupakan penciri yang penulis rasa perlu kajian lebih lanjut. AFP

    Paragraf terakhir, kita akan bahas informasi umum M. singaringan. Persebaran M. singaringan sangat luas di Asia Tenggara, mulai dari Laos, turun ke Vietnam, Thailand, Kamboja, Malaysia hingga ke Indonesia bagian Barat. Kendati ikan ini umum ditemukan, namun penulis mencurigai alasan sulitnya mendapatkan deskripsi yang jelas, adalah karena adanya potensi spesies tersembunyi dalam nama M. singaringan. Setelah penulis jabarkan panjang lebar, penulis harap pembaca paham betul mengapa kemungkinan demikian bisa muncul di kepala penulis, meski jikapun tidak, maka persebaran ini masih masuk akal, sebab tidak melanggar batas-batas geografis berdasarkan sejarah bumi (paleogeografi). Spesies ini umumnya dijadikan komoditas konsumsi di berbagai wilayah persebarannya, jarang diperjual-belikan untuk ikan hias, tentunya karena warna yang monoton, meski itu kembali ke selera, sebab penulis sendiri lebih senang dengan ikan seperti ini. Sejauh pengetahuan penulis, ikan ini hanya ada di air tawar, tidak seperti kerabatnya, M. gulio yang dapat hidup di air payau. Ukuran maksimal tercatat 30 cm, namun umumnya sekitar 15 cm, dan spesimen terbesar yang pernah penulis dapati, sekitar 23 cm (itupun bagi penulis sudah sangat besar untuk ukuran ikan ini), sedangkan umumnya penulis dapati hanya sekitar 10 cm. Bisa jadi, perbedaan tersebut memang merupakan penyusutan ukuran dalam proses seleksi alam, sementara untuk domestikasi ikan ini, masih belum terdengar oleh telinga penulis ada di Indonesia. Ah, baik, penulis cukupkan, jujur menulis ikan ini lebih sulit dibandingkan C. batrachus kemarin, namun senang rasanya sudah menuliskan selengkap mungkin.

Pembaruan terakhir:
    250313 (ver. 1)
Penulis dan Illustrator:
    Akhsan F. Paricahya, S.Pi., M.Si. (AFP)

Daftar Pustaka

Chakrabarty, P., & Ng, H. H. (2005). The identity of catfishes identified as Mystus cavasius (Hamilton, 1822)(Teleostei: Bagridae), with a description of a new species from Myanmar. Zootaxa1093(1), 1-24.

Chung-Lyul, L., & Ik-Soo, K. (1990). A taxonomic revision of the family Bagridae (Pisces, Siluriformes) from Korea. Korean Journal of Ichthyology2(2), 117-137.

Hee, N. H. (2002). The identity of Mystus nigriceps (Valenciennes in Cuvier & Valenciennes, 1840), with the description of a new bagrid catfish (Teleostei: Siluriformes) from Southeast Asia. Raffles Bulletin of Zoology50(1), 161-168.

Jayaram, K. C., & Sanyal, A. (2003). A taxonomic revision of the fishes of the genus Mystus Scopoli.(Family: Bagridae) Rec Zool Surv India. Occ. Paper207, 1-141.

Pramono, T. B., Arfiati, D., Widodo, M. S., & Yanuhar, U. (2019a). Status and management of senggaringan fish (Mystus singaringan) as Fisheries resources: a case study at the Klawing River, Purbalingga District, central Java of Indonesia. Russian Journal of Agricultural and Socio-Economic Sciences88(4), 39-46.

Pramono, T. B., Arfiati, D., Widodo, M. S., & Yanuhar, U. (2019b). Sexual Dimorphism In Morphometric Characters of Mystus singaringan From Klawing River In Central Java, Indonesia: Strategic Instruction For Conservation Development. Biodiversitas Journal of Biological Diversity20(4), 1133-1139.

Rainboth, W.J., 1996. Fishes of the Cambodian Mekong. FAO species identification field guide for fishery purposes. FAO, Rome, 265 p. (baca daring)

Roberts, T. R., 1993. The freshwater fishes of Java, as observed by Kuhl and van Hasselt in 1820-23. Zoologische Verhandelingen, 285: 1-94.

Weber,  M., & de Beaufort,  L. F. (1913). The fishes of the Indo-Australian Archipelago ... (Vol. 2). E.J. Brill, Ltd(baca daring)


Comments

Popular posts from this blog

Clarias batrachus (Linnaeus, 1758) a.k.a. Lele Jawa

      Kesalahpahaman orang terhadap ikan lele, sangat merugikan bagi ekosistem liar. Indonesia memiliki banyak sekali spesies lele lokal, meski jika di Pulau Jawa, sebutan 'lele lokal' sudah semestinya merujuk pada spesies Clarias batrachus . Budidaya spesies ini masih sangat minim, dan dianggap tidak semenguntungkan spesies invasif dari genus yang sama, yaitu lele dumbo atau Clarias gariepinus  dari Afrika. Mari kenali spesies lokal kita lebih dekat secara ilmiah, sebab jika kita tak mengenalinya, maka salam lestari adalah omong kosong. Kita akan mulai dengan klasifikasi dasar dari C. batrachus , yang memiliki nama nasional 'lele jawa'. Klasifikasi Dasar Ordo:      Siluriformes (Lele) Keluarga:     Clariidae (Lele berpernapasan tambahan) Genus:     Clarias Spesies:     C. batrachus Ordo Siluriformes adalah ordo yang menaungi banyak ikan berkumis, meski tak semua ikan berkumis adalah anggotanya, namun secara singkat m...

Ordo Elopiformes (Bulan-bulan dan payus)

    Kebanyakan awam kemungkinan akan mengatakan anggota dalam ordo Elopiformes, sebagai ikan bandeng, terutama untuk keluarga Elopidae, yang juga dikenal di beberapa tempat sebagai ikan bandeng lanang. Sebagaimana asas yang harus dilumrahkan dalam perbincangan kita kedepan, bahwa kemiripan fisik tidak selalu mengantarkan kita pada kedekatan kekerabatan antar kelompok. Elopiformes membawahi setidaknya dua keluarga, yaitu keluarga Elopidae atau keluarga ikan payus, dan keluarga Megalopidae atau keluarga ikan bulan-bulan. Ordo ini terbilang kecil, dengan hanya menampung sekitar sembilan spesies di seluruh dunia, dan hanya sekitar tiga spesies yang ada di Indonesia. Dalam kasus ini, spesies dari Megalopidae adalah yang paling sedikit, hanya ada dua spesies di dunia, dan hanya satu spesies di Indonesia. Menariknya, meski mirip dengan bandeng, ordo Elopiformes termasuk dalam superordo Elopomorpha yang menaungi setidaknya tiga ordo lainnya, yaitu Albuliformes (bandeng celurut), Notac...