Hibridisasi merupakan sebuah fenomena yang cukup unik, di mana perkawinan berbeda spesies ini cukup panjang dibahas dalam kajian-kajian evolusioner. Umumnya, hibridisasi dilakukan secara buatan untuk mempercepat pengadaan varian unggul secara kualitatif, berdasarkan kalkulasi para pembudidaya. Meski memang hibridisasi juga dapat terjadi secara alami, namun tujuan hibridisasi alami umumnya untuk keuntungan adaptasi salah satu atau kedua spesies tersebut, dalam mempertahankan populasinya. Sejauh ini, laporan hibridisasi kerapu umumnya memang hanya berkutat pada hibridisasi buatan, yang dalam buku "The Origin of Species" karya Charles Darwin, tindakan hibridisasi seperti ini umumnya mengakibatkan efek samping pada hibrida (read: hasil peranakan hibridisasi). Efek samping itu secara mudah saya bahasakan sebagai sterilitas dan inkonsistensi bentuk.
Kali ini, kita bersama-sama akan melihat berbagai contoh dari efek samping tersebut, menggunakan satu varian hibrida kerapu yang umum disebut sebagai kerapu cantang. Kata 'cantang' sendiri merupakan singkatan macan dan kertang, merujuk pada dua spesies parentalnya (read: induknya), yaitu pejantan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dan betina kerapu kertang (Epinephelus lanceolatus). Kedua spesies ini sebenarnya dapat ditemukan di Laut Utara Pulau Jawa, namun memang belum ada laporan mereka dapat melakukan hibridisasi secara alami. Jika masalah sterilitas, kerapu umumnya adalah spesies hermaprodit protogini, di mana kerapu akan berkelamin betina di awal stadia hidupnya, hingga pada satu titik mereka berubah menjadi jantan. Kerapu hibrida umumnya tidak steril pada saat betina, namun ketika berubah menjadi jantan, sel sperma mereka tidak dapat membuahi, atau kita sebut steril. Bekeja sama dengan Ahmad Nur hidayat, S.Pi., salah satu ahli kerapu secara aplikatif, kami mengumpulkan berbagai dokumentasi kasus inkonsistensi bentuk hibrida kerapu cantang. Sebelum melangkah lebih jauh, kita lihat terlebih dahulu dokumentasi bentuk dari kerapu cantang itu sendiri (Gambar 1). Dokumentasi yang ada di laman ini, merupakan dokumentasi pribadi Ahmad N. Hidayat, S.Pi. dan tim SOFS. Penelitian ini dilakukan di Lamongan, Jawa Timur, dan untuk artikel ilmiah sedang dalam proses.

Inkonsistensi pertama adalah kecacatan tulang belakang atau vertebra defect. Kondisi ini menyebabkan berubahnya tampilan individu secara abnormal. Kendati kita sedang berbicara terkait hibridisasi, namun pada dasarnya vertebra defect tidak selalu terjadi sebab efek samping hibridisasi. Bahasan ini kami angkat, sebab pada faktanya kasus vertebra defect jauh lebih sering ditemui pada hibrida cantang, dibanding spesies asli di sekitar tempat penelitian. Hal ini dapat disebabkan efek samping hibridisasi, gangguan dalam masa pertumbuhan ataupun efek samping dari keragaman genetik yang rendah, mengingat merupakan rahasia umum, domestikasi dan akuakultur dalam jangka panjang, sangat sukar untuk mempertahankan keragaman genetik populasi kultivannya (read: ikan yang dibudidayakannya). Kasus vertebra defect paling umum adalah kasus individu bantet atau biasa disebut Short Body (SB) (Gambar 2A). Beberapa spesimen, tidak terlalu bantet, namun juga tidak bisa disebut normal, sehingga juga terdapat kategori transisi yang disebut semi SB (Gambar 2B). Terkadang, terdapat spesimen yang mengalami abnormalitas bertubuh cenderung panjang, berkebalikan dari varian SB. Namun tidak seperti varian SB, umumnya penambahan panjang tubuh ini tidak terlalu nampak di mata pembeli, dan tidak menambah nilai jual.

Selain varian SB, terkadang juga didapati ikan dengan postur tubuh abnormal seperti lordosis maupun deformasi struktur tubuh. Sebagai contoh adalah individu lordosis dan deformasi pada area kepala (Gambar 3A) dan individu dengan deformasi di moncong (Gambar 3B). Abnormalitas seperti ini, sama seperti abnormalitas pemanjangan tubuh, umumnya tetap tidak menambah nilai jual, meski jelas menambah keunikan. Seperti varian SB, lordosis dan deformasi struktur tubuh ini, sebenarnya jelas merugikan individu terkait, sebab adanya potensi gangguan mobilitas, sulitnya berkompetisi dan gangguan dalam sistem pencernaan. Setidaknya, itu adalah beberapa vertebra defect yang umum ditemui di kawasan penelitian kami. Beberapa kecacatan lain di luar vertebra defect mungkin dapat ditemukan, seperti terlipatnya sirip dan operkulum (read: tutup insang) tidak sempurna (Triastuti et al. 2018), namun kami tidak membahas lebih jauh terkait hal tersebut.

Sebagaimana telah terlihat di beberapa spesimen contoh, kerapu cantang sering ditemui memiliki warna abnormal, yang malah menjadikan harga jual mereka naik tinggi. Banyak sekali varian dan kombinasinya, baik dari warna yang menggelap, menguning, memutih hingga berbagai kombinasi dari banyak morph. Morph ini terkadang dapat berubah-ubah, dengan atau tanpa dipicu faktor eksternal yang jelas, mirip seperti pada hibrida ikan lauhan. Setidaknya, terdapat beberapa warna dasar dari morph kerapu, yaitu platinum atau putih susu (Gambar 4A), xanthic atau kuning (Gambar 4B) dan melanistic atau hitam (Gambar 4C). Dalam beberapa kasus, warna erythristic atau merah (Gambar 4D) dan kecenderungan leucistic atau putih pucat (Gambar 4E), juga muncul. Untuk spesimen 4E, mungkin juga dapat disebut sebagai morph hypo tortoiseshell. Sebenarnya, tidak ada nama pasti bagi morph-morph kerapu cantang ini sendiri, sehingga penamaan yang kami gunakan dalam tulisan ini, mungkin tidak umum. Kami menggunakan pendekatan penamaan morph pada taksa lain, seperti pada ball phyton, kucing domestik, hamster dan lainnya untuk mempermudah perumusan morph.



Kelainan warna tersebut pada hibridasi, salah satunya dipengaruhi oleh terganggunya ekspresi gen sebab tumpukan informasi. Kedua spesies parental memiliki informasi yang berbeda, ibarat menggabungkan buku sejarah dan buku biologi, tentu kita kebingungan. Dampaknya, setelah ngomongin penculikan Ir. Soekarno, bisa jadi kita langsung bicara tentang siklus hidup bakteri anaerob, random banget. Yup, itulah mungkin kurang lebihnya yang dirasakan gen dari individu hibrida, sehingga gen penting ngga penting bagi individu tersebut, kadang sudah tidak bisa dipilah dengan baik. Salah satunya adalah gen yang mengatur regulasi pigmen, menyebabkan fluktuasi pada mutasi demelanisasi. Jika demelanisasi kuat, maka warna cenderung cerah, dan sebaliknya (Zhou et al. 2022). Ah, sebelum pembahasan tambah rumit, kita alihkan saja topiknya untuk melihat koleksi dokumentasi kami. Setidaknya beberapa warna abnormal dasar tersebut ditambah warna normalnya, kemudian sering memunculkan kombinasi-kombinasi luar biasa.
Kombinasi warna paling sering muncul adalah dari warna platinum, yang berinteraksi dengan salah satu dari warna normal, xanthic, melanistic hingga erythristic. Adanya bauran platinum ini, kemudian umum disebut sebagai piebaldism atau piebald. Beberapa spesimen sebelumnya, telah menunjukkan kasus ini. Piebaldism sendiri di alam sangat jarang terjadi, dan kadar warna putih dalam piebaldisme tidak selalu dominan. Maka hari itu, dalam kasus ini kami mengambil istilah pembagian piebaldism menjadi tiga kategori, yaitu low white (warna putih di bawah 25%) (Gambar 5A), medium white (warna putih sekitar 25-50%) (Gambar 5B) dan high white (warna putih sekitar di atas 50%) (Gambar 5C). Berikut adalah beberapa variasi morph piebald yang sempat didokumentasikan oleh Ahmad N. Hidayat, S.Pi. di daerah penelitian kami:


Kondisi piebald yang mana warna platinum berinteraksi dengan lebih dari satu warna lainnya, akan kami kelompokkan dalam kelompok berbeda. Sebenarnya, contoh spesimen sempat keluar di bahasan sebelumnya, namun secara garis besar piebaldisme yang sedang kita bicarakan ini, merupakan kombinasi warna platinum, xanthic atau erythristic dan melanistic. Pada kucing dan mamalia seperti hamster, kita biasa menyebutnya sebagai belang telon, tricolor atau calico seperti pada gambar 4D sebelumnya. Ketika warna putih masuk pada kategori low white, pada kucing umumnya akan dikelompokkan sebagai torbie, dan jika tidak ada warna putih, maka termasuk pada hamster akan disebut sebagai tortoiseshell. Dalam kasus ini, kami mengelompokkan torbie sebagai tortoiseshell seperti pada gambar 4C sebelumnya. Berikut adalah contoh spesimen calico (Gambar 6A) dan tortoiseshell (Gambar 6B) lainnya yang berhasil didokumentasikan:

Beberapa morph sebenarnya tidak meninggalkan bercak dasar varian normalnya, namun tetap sulit untuk dikelompokkan ke beberapa morph sebelumnya.
Piebaldism ditandai dengan bercak yang acak tidak teratur, namun adapun spesimen dengan warna bercak tetap gelap dan rapi, sedangkan di luar bercak sangat pucat mendekati putih. Namun sejauh ini, warna hanya sampai mendekati putih, bahkan condong keabu-abuan sebab hilangnya warna normal, sedangkan bercak gelap makin kuat. Morph ini kami sebut sebagai
stormtrooper (Gambar 7A), meski terdengar aneh, namun kami merujuk pada nama morph
ball phyton yang mendekati warna ini. Sementara itu, ada juga bercak asli yang sudah menguning terkena pengaruh
xanthic, namun di luar bercak terlihat seperti
albinisme atau albino ekstreem hingga terlihat merah muda. Morph ini kami kelompokkan dalam morph lavender (Gambar 7B), seperti pada morph dalam
phyton.
Selain itu, terdapat kasus warna
xanthic yang keluar di tengah bercak normal gelap. Hal ini menyebabkan hibrida menyerupai parentalnya dari jalur maternal, yaitu
E. lanceolatus pada usia juvenil (Gambar 8A). Morph ini kami sebut sebagai morph
pseudo bumblebee (Gambar 8B), merujuk pada salah satu nama dagang juvenil
E. lanceolatus yaitu
bumblebee grouper.
Sebab banyaknya variasi morph yang ditemukan, kami belum dapat menjabarkan satu per satu karakteristik tiap morph lebih dari ini. Berikut adalah beberapa variasi kombinasi pewarnaan lainnya, yang sempat terdokumentasikan oleh Ahmad N. Hidayat, S.Pi. dan tim SOFS (Gambar 9A ke bawah):
Tulisan ini ditulis oleh Akhsan Fikrillah Paricahya, S.Pi., M.Si., Pemimpin Publikasi di Scientist of Fisheries Society (SOFS). Dengan berjalannya waktu, lulisan ini sangat mungkin terus diupdate. Untuk tulisan yang sedang dibaca, terakhir diupdate pada tanggal: 11 Juni 2026. Segala penamaan dalam tulisan ini dapat dijadikan saran nama dagang, namun bukan sebagai acuan baku, sehingga sangat dapat didiskusikan.
Referensi:
Triastuti, J., Pursetyo, K. T., Monica, A., Lutfiyah, L., & Budi, D. S. (2018, April). Abnormalities of hybrid grouper (Epinephelus fuscoguttatus x Epinephelus lanceolatus) in Situbondo. In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 137, No. 1, p. 012035). IOP Publishing.
Zhou, K., Zhang, K., Fan, X., Zhang, W., Liang, Y., Wen, X., & Luo, J. (2022). The skin-color is associated with its physiological state: A case study on a colorful variety, hybrid grouper (Epinephelus fuscoguttatus× Epinephelus lanceolatus). Aquaculture, 549, 737719.
Comments
Post a Comment