Skip to main content

Sejarah Pembentukan SOFS (P1)


    Saya Akhsan Fikrillah Paricahya S.Pi. M.Si., seorang yang tertarik dengan ikan sedari kecil. Sebagai pembuka, ketertarikan saya pada ikan telah muncul ketika masih di bangku Sekolah Dasar, dan kebetulan, tak jauh dari SD saya, ada pasar hewan terbesar di kota kelahiran saya, Malang. Seingat saya, sejak kelas 4 SD, saya mulai rutin ke pasar tersebut untuk melihat-lihat ikan, sering bertanya dan jarang membeli, sebab sebagian besar uang saku saya harus digunakan naik angkot pulang-pergi. Rumah saya berjarak sekitar 11 km dari SD, tidak mungkin saya jalan kaki tiap hari, meski sesekali saya berjalan dari terminal ke rumah untuk menghemat ongkos Rp. 1.500,-, jaraknya sekitar 2 km. Dari pasar tersebut, sebab jarang bisa membeli, jawaban-jawaban pedagang menjadi hal paling sering saya bawa pulang. Ketika telah masuk ke bangku Sekolah Menengah Pertama, saya bergabung dalam komunitas penghobi ikan, yang saat itu belum seramai sekarang. Saya mulai mengesampingkan ilmu lama saya dari para pedagang pasar, dan mulai belajar dari penghobi yang gap umurnya jauh di atas saya. Pada zaman itu, saya adalah anggota termuda di komunitas tingkat kota, bahkan seingat saya tak ada anak Sekolah Menengah Akhir di sana. Meski kemudian komunitas mulai berkembang, saya merasa ilmu yang saya dapat mulai tidak esensial, saya mulai mencari komunitas ikan dengan nuansa lingkungan, namun ternyata tetap tidak terpuaskan. Dengan dasar ilmu dari pasar dan komunitas, akhirnya saya masuk ke Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di salah satu kampus ternama kota ini.

    Semasa kuliah, harus saya akui semangat belajar saya menurun hari demi hari. Meski secara akademik, nilai saya tidak seburuk itu, namun ketertarikan saya terhadap penjelasan dosen sangat buruk. Saya menyadari betapa jauhnya gap pengetahuan dan isu dari pasar, komunitas, kampus dan praktisi perikanan, cukup jauh. Semasa kuliah, meski saya tak sebegitu mempelajari materi dosen, orang-orang tak jarang menganggap saya pintar dalam bidang perikanan, hingga saya diundang masuk pada tim penelitian genetika populasi. Pertimbangan kakak tingkat sekaligus kolega saya saat itu, Mas Kiki Nur Azzam Kholil, S.Pi. M.Sc. adalah karena saya dinilai tahu banyak ikan. 
    
    Kelompok ini berisi orang-orang yang mengerikan bagi saya, terutama di angkatan saya, sebab anggota-anggota di sini adalah mahasiswa dan mahasiswi dengan record akademik di atas rata-rata. Hal ini terjadi, sebab topik genetika populasi bukanlah topik umum saat itu di sana, dan hanya orang-orang yang dipercaya dapat belajar dengan cepatlah, solusi dari masalah kebutuhan sumber daya manusia di penelitian tersebut. Meski nilai saya tak juga bisa dikatakan jelek, namun bersama mereka, nilai akumulatif saya yang paling rendah, bayangkan saja komposisinya: Saya adalah mahasiswa pemberontak, berkelompok dengan nilai akumulatif tertinggi di angkatan, sahabat dan kolega saya sendiri, Muhammad Alfiandi Harahap, S.Pi.; lalu satu orang penerima penghargaan mahasiswa berprestasi; dan dua orang lagi adalah penerima beasiswa, salah satunya merupakan teman dekat dan kolega saya, Ifa Sufaichusan, S.Pi. M.Pi.. Meski kemudian M.A. Harahap mendapat beasiswa lain, namun ia tetap belajar bersama kami. 

    Ada satu keuntungan saya, yang mereka semua tak mendapatkan kesempatan seperti saya, yaitu saya menjadi anggota tetap tim ekspedisi berkeliling Pulau Jawa-Madura dari 2019 hingga 2022. Sederhana, sebab lagi-lagi Mas K.N.A. Kholil dan tim menganggap, saya tahu banyak ikan (dan mungkin juga pertimbangan saya bisa dibayar murah saat itu, haha). Sedikit berbeda memang, sebab bidang keahlian saya saat itu saya rasa ada di air tawar, namun mayoritas sampel target adalah ikan laut, tantangan bagi saya. Singkat cerita, tak ada anggota dalam tim tersebut, yang benar-benar ikut dari awal hingga akhir (terdiri dari empat hingga lima kali trip), kecuali saya. Suatu kebanggaan dan pengalaman berharga, meski salahnya adalah, saat itu saya belum terlalu mempelajari ikan air laut, hingga saya bertemu dengan seseorang yang menjadi inspirasi nilai dasar pertama dalam tulisan ini.


    Penelitian genetika populasi, mengantarkan saya ke satu gerbang baru, yaitu taksonomi integratif. Pasca lulus, saya dan I. Sufaichusan akhirnya melanjutkan menjadi asisten dosen di program studi Budidaya Perairan, namun setelah setahun, saya pindah menjadi asisten dosen di program studi Pemanfaatan Sumberdaya Perairan, atau singkatnya program studi penangkapan ikan. Setelah lima tahun di kampus (4 tahun kuliah, 1 tahun menjadi asisten dosen), saya akhirnya bertemu dan bekerja bersama Prof. Dr. Ir. Dewa Gede Raka Wiadnya, M.Sc. yang memiliki bidang dasar taksonomi ikan laut. Saya mulai memiliki akses untuk mempelajari banyak hal terkait ikan laut dari beliau, sembari melanjutkan kuliah di Fakutas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, program studi S2 Biologi di universitas tersebut, saya secara mandiri melakukan pengumpulan data ikan-ikan laut hingga ratusan spesies. Beliau adalah seorang yang idealis, saya sangat menyukai itu, namun saya merasa beliau tak mendapatkan ruang untuk berkembang lebih, meskipun beliau sudah cukup luar biasa. Saya juga menjadi saksi perjuangan beliau mendapatkan gelar Guru Besar-nya, bahkan saya masih ingat ketika mengurus persyaratan, kami sempat tertidur dalam keadaan duduk, berhadap-hadapan tanpa sadar, di depan leptop masing-masing. Terlepas dari rasa hormat saya pada beliau, di lain sisi, semakin hari saya semakin berpikir, perikanan memang Pekerjaan Rumah (PR) besar saya dan orang-orang yang telah jenuh dengan sistem tanpa etika. 

    Apakah idealisme itu penting bagi seorang peneliti atau ilmuwan? Jika iya, di manakah ruang idealisme itu dapat berdiri tegak? Di instansi akademik? pemerintahan? swasta? Entahlah, namun saya ada sedikit cerita. Saya tak punya cukup kemampuan dan akses untuk mempublikasikan temuan-temuan saya waktu itu (dan sekarangpun masih selalu berjuang mengusahakannya), namun selama saya bekerja, saya melihat air kotor nan busuk mengalir dari saku kemeja 'oknum peneliti', di dalam dan di luar kampus. Hal-hal yang tak bisa saya sebutkan di sini, memuakkan, membuat saya begitu stress luar biasa, terutama di akhir-akhir saya bekerja. Belum lagi ditambah fakta, mahasiswa masih menghormati mereka, bahkan ketika tanduk panjang di kepala 'oknum-oknum' itu sedang diasah di depan mata. Setelah mendengar banyak sekali video tentang masalah pendidikan, saya sadar skala kerusakan tersebut lebih besar, tak terbatas dengan instansi ini dan itu, masalah ini masif! Saya lulus S2 setelah tiga semester berkuliah di sana, lalu merumuskan satu perkumpulan dengan nilai perjuangan yang berbeda, itulah Scientist of Fisheries Society (SOFS). Perkumpulan kecil, dengan harapan besar, dan tolong jaga saya untuk mewujudkannya.


    Sebenarnya, terbentuknya SOFS tidak tiba-tiba, ada cerita lain yang ingin saya abadikan di sini. Sejak sebelum lulus S1, saya bersama M.A. Harahap dan I. Sufaichusan telah mencoba membuat draft publikasi ilmiah, meski kemudian terjeda hingga sekarang. Kami bertiga, merumuskan satu nama untuk kelompok kami saat itu, yaitu 'Ilmuwan Newbie'. Saya sangat terobsesi untuk mendapatkan nama dalam publikasi saat itu, dan kedua kolega saya tersebut juga berpikir hal yang sama, namun kami merasa tak menemukan dukungan. Dengan seluruh peperangan di kepala kami, akhirnya artikel itu terbengkalai, pun saat itu kami memang tersendat dalam berbagai keterbatasan kami. Saya rasa, inilah embrio dari SOFS, yang kini mulai merangkul lebih banyak orang. Mari kita bahas dulu nilai dasar berikutnya!

    Setahun setelah lulus, melalui kemampuan saya dalam illustrasi sainstifik, kolega saya, Dr. Muh. Herjayanto, M.Si., menemukan saya melalui instagram Indo Fish Story, dan melibatkan saya dalam salah satu artikelnya. Ini adalah momen yang sangat mengharukan bagi saya, dan beliau memasukkan saya pada satu kumpulan luar biasa, berisi berbagai peneliti perikanan di Indonesia. Singkat cerita, karena topik S2 saya menggunakan ikan yang beliau kuasai, akhirnya kami sering berkomunikasi, dan suatu saat beliau memberi tahu saya keyakinan beliau. Beliau berkata yang intinya, beliau percaya akan ada pembaharu-pembaharu perikanan dari generasi dibawah beliau muncul, dan beliau ingin menemukan orang-orang itu. Kata-kata tersebut, tanpa saya akui ke beliau secara langsung, sebenarnya sangat menggelegar di dada saya. Sekarang, nama saya telah tersebar sebagai salah satu penulis dalam 13 artikel ilmiah, namun apakah saya bisa menjadi pembaharu bagi perikanan hanya dengan seorang diri? Perjalanan saya berlanjut untuk menjawab, bagaimana caranya merangkul lebih banyak orang.

    Saya bertemu dengan banyak orang, banyak peneliti, termasuk Dr. Arafik Lamadi, MP. yang sudah seperti om saya sendiri. Beliau mengajari saya banyak cara pikir, dan yang tak kalah penting, adalah kesempatan kolaborasi, serta kepercayaannya pada saya sebagai peneliti, bukan sekedar asisten dosen pembimbingnya ketika S3. Pandangan seperti inilah yang ingin saya bangun ketika melihat orang-orang bernasip seperti kami dahulu di Ilmuwan Newbie. Beliau sering mentraktir saya makan, lalu dengan gaya bahasa yang akrab, kami sering bertukar pikiran. Kepercayaan beliau terhadap potensi saya, telah banyak menyumbangkan dukungan pada saya pribadi, dan menumbuhkan kepercayaan para anggota SOFS, juga merupakan keinginan saya sebagai pendiri perkumpulan ini.

    Jika Prof. D.G.R. Wiadnya mengajarkan idealisme, Dr. M. Herjayanto mengajarkan harapan dan Dr. A. Lamadi mengajarkan pandangan, maka inspirasi saya mendirikan SOFS terakhir adalah Dr. Septiana Sri Astuti, M.Pi. yang mengajarkan ketulusan. Beliau adalah kolega saya, saya belajar banyak tentang bagaimana beliau menjunjung tinggi nilainya niat baik. Saya sangat menghormati beliau, seperti ketika saya mengingatkan potensi-potensi beliau dimanfaatkan peneliti lain, tak jarang kesimpulan akhirnya hanyalah, keyakinan beliau yang senada dengan perkataan Jalaluddin Rumi, 'dunia berdiri atas asas timbal balik'. Saya sangat hafal asas itu, namun pada praktiknya, saya hanya menyodorkan pipi untuk berkali-kali ditampar oleh ketulusan beliau. Beliau juga orang yang sangat menjunjung tinggi kejujuran dan etika sebagai peneliti. Ada satu kepercayaan yang selalu beliau ulang-ulang, bahwa beliau percaya Allah Azza wa Jall selalu membuat beliau dikelilingi orang-orang baik, itulah dalam hemat saya, alasan beliau tak takut untuk membantu dengan tulus.

    Saya rasa, empat nilai tersebut (idealisme, harapan, pandangan, dan ketulusan) sudah sangat kuat untuk memaksa hati saya mendirikan SOFS. Awalnya, nama perkumpulan ini adalah Asosiasi Saintis Ummah (ASU), namun sepertinya saya sebagai pembuat nama, lama-lama juga terganggu, sehingga saya ganti menjadi SOFS. Perkumpulan ini terbentuk per tanggal 12 Mei 2024, dan pergantian nama menjadi SOFS di tanggal 25 Mei 2024. Ah, saya jadi ingin membahas terkait bagaimana anggota-anggota awal SOFS bergabung, tidak janji, namun yang jelas tidak sekarang, toh saya juga belum ceritakan apa harapan SOFS kedepan. AH

Comments

Popular posts from this blog

Clarias batrachus (Linnaeus, 1758) a.k.a. Lele Jawa

      Kesalahpahaman orang terhadap ikan lele, sangat merugikan bagi ekosistem liar. Indonesia memiliki banyak sekali spesies lele lokal, meski jika di Pulau Jawa, sebutan 'lele lokal' sudah semestinya merujuk pada spesies Clarias batrachus . Budidaya spesies ini masih sangat minim, dan dianggap tidak semenguntungkan spesies invasif dari genus yang sama, yaitu lele dumbo atau Clarias gariepinus  dari Afrika. Mari kenali spesies lokal kita lebih dekat secara ilmiah, sebab jika kita tak mengenalinya, maka salam lestari adalah omong kosong. Kita akan mulai dengan klasifikasi dasar dari C. batrachus , yang memiliki nama nasional 'lele jawa'. Klasifikasi Dasar Ordo:      Siluriformes (Lele) Keluarga:     Clariidae (Lele berpernapasan tambahan) Genus:     Clarias Spesies:     C. batrachus Ordo Siluriformes adalah ordo yang menaungi banyak ikan berkumis, meski tak semua ikan berkumis adalah anggotanya, namun secara singkat m...

Mystus singaringan (Bleeker, 1846) a.k.a. Senggaringan

      Sebagian orang, akan mengatakan spesies ini adalah lele, patin ataupun keting, namun secara nasional, Mystus singaringan  dikenal sebagai senggaringan. Nama ini serupa nama lokalnya di beberapa tempat di Pulau Jawa, pastinya dengan variasi penyebutan yang khas di berbagai tempat tersebut. Sebagai contoh, spesies ini dikenal di kota-kota sekitar tempat penulis di Jawa Timur, sebagai 'garingan', 'kebo gerang' dan lain sebagainya, dengan kata dasar yang mirip-mirip dengan senggaringan. Nama ini, termasuk nama spesiesnya, penulis curigai betul memang disesuaikan dengan penyebutan ikan ini di Pulau Jawa, sebab deskripsi awal ikan inipun, menggunakan populasi di Barat Pulau Jawa. Jika disebut lele, ia memang masuk pada ordo Siluriformes, sebagaimana unggahan penulis terkait  Clarias batrachus  sebelumnya. Jika disebut patin, penulis kurang yakin dapat mencari pembenaran, namun keduanya, baik M. singaringan  dari keluarga Bagridae dan patin dari keluarg...

Ordo Elopiformes (Bulan-bulan dan payus)

    Kebanyakan awam kemungkinan akan mengatakan anggota dalam ordo Elopiformes, sebagai ikan bandeng, terutama untuk keluarga Elopidae, yang juga dikenal di beberapa tempat sebagai ikan bandeng lanang. Sebagaimana asas yang harus dilumrahkan dalam perbincangan kita kedepan, bahwa kemiripan fisik tidak selalu mengantarkan kita pada kedekatan kekerabatan antar kelompok. Elopiformes membawahi setidaknya dua keluarga, yaitu keluarga Elopidae atau keluarga ikan payus, dan keluarga Megalopidae atau keluarga ikan bulan-bulan. Ordo ini terbilang kecil, dengan hanya menampung sekitar sembilan spesies di seluruh dunia, dan hanya sekitar tiga spesies yang ada di Indonesia. Dalam kasus ini, spesies dari Megalopidae adalah yang paling sedikit, hanya ada dua spesies di dunia, dan hanya satu spesies di Indonesia. Menariknya, meski mirip dengan bandeng, ordo Elopiformes termasuk dalam superordo Elopomorpha yang menaungi setidaknya tiga ordo lainnya, yaitu Albuliformes (bandeng celurut), Notac...