Konflik laten antara kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA), dapat ditinjau dari keputusan para pemangku kebijakan, salah satunya seperti yang akhir-akhir ini terjadi di Sulawesi Barat (Sulbar). Obsesi seorang PJ Gubernur, Bahtiar Baharuddin untuk melepaskan 100 juta ikan nila di perairan liar Sulbar, nampaknya tetap dilakukan, meski dinilai oleh para pemerhati, sangat merusak lingkungan. Senada dengan Bahtiar, berbagai elemen dalam birokrasi Sulbar mengaminkan tindakan merugikan tersebut, mengesampingkan pentingnya ekosistem Sulawesi bagi dunia, dan sejarah kelam hilangnya spesies ikan endemik dikarenakan masuknya spesies asing.
Beberapa hari ini, para pegiat perikanan mulai dari peneliti, akademisi dan pemerhati dari masyarakat umum maupun komunitas, menyoroti postingan akun instagram resmi Humas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Prov. Sulbar, lantaran mengatakan bahwa ikan nila bukanlah spesies invasif, melainkan ikan bernilai ekonomis dan ekspor. Pernyataan ini jelas menuai banyak kecaman, meskipun pihak DKP Prov. Sulbar (dalam postingan tersebut, tertera sebagai Ketua DKP. Prov. Sulbar, Suyuti Marzuki), menggunakan dalih Permen KP RI No. 19/PERMEN-KP/2020 tentang Larangan Pemasukan, Pembudidayaan, Peredaran, Dan Pengeluaran Jenis Ikan Yang Membahayakan Dan/Atau Merugikan Ke Dalam Dan Dari Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia, namun hal ini tidak membantah penilaian para pemerhati bahwa DKP Prov. Sulbar tidak memahami isu lingkungan dalam kasus ini. Isi komentar pada postingan tersebut dipenuhi dengan keresahan para pemerhati di perikanan, terhadap kualitas SDM yang ada di DKP Prov. Sulbar maupun birokrasi secara umum di sana.
.png)
Senada dengan hal tersebut, beberapa waktu sebelumnya, akun instagram resmi humas Pemprov Sulbar merilis video kegiatan pelepasan ikan nila yang diklaim oleh PJ Gubernur Sulbar, Bahtiar Baharuddin sebagai inovasi mereka untuk swasembada pangan pada Kamis (30/1/25). Kegiatan ini dilakukan di Kecamatan Mapilli, Polewali Mandar, dengan rangkaian pelepasan di beberapa tempat lain sebelumnya dan setelahnya, didampingi oleh ketua DKP Prov. Sulbar dan jajaran. "Ini adalah benar-benar inovasi kita, saya kira di Indonesia tidak ada yang lakukan. Hanya ketika di Sulsel (Sulawesi Selatan) saat gubernurnya saya, dan di sini di Sulbar inovasi kita juga, ini murni gagasan kita. Kita hendak memproduksi ikan, apa lagi presiden sekarang arahnya swasembada pangan. Sebelum perintah itu ada, sudah kita lakukan di Sulbar maupun di Sulsel", ungkap Bahtiar yang sempat menjadi PJ Gubernur Sulsel periode 5 September 2023 hingga 17 Mei 2024. Selain beralasan untuk mendukung program swasembada pangan, penebaran bibit nila ini pada kesempatan lain, dikabarkan juga untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
.png)
Kegiatan semacam ini, telah dilakukan dengan sangat masif dalam berbagai kesempatan, imbas dari obsesi Bahtiar, meski ditentang oleh banyak peneliti, akademisi dan pemerhati perikanan. "Kita punya rencana besar tahun ini, cita-cita kan boleh to? Kita merencanakan tahun ini, akan menebar bibit ikan nila (ke perairan liar), minimal 100 juta (dalam) satu tahun", ucap Bahtiar pada postingan instagram per tanggal 24 Januari kemarin. Ironisnya pada media, Bahtiar mengungkapkan pandangan 'nyeleneh'-nya, bahwa potensi Sulbar adalah adanya sembilan sungai besar yang belum maksimal fungsinya, sehingga pemaksimalan sungai serta perairan lainnya termasuk bendungan, diarahkan untuk dapat bermanfaat bagi produksi nila di Sulbar. Obsesi tersebut didukung penuh oleh berbagai pihak yang dinilai oleh publik, tak paham pengelolaan lingkungan, termasuk DKP Prov. Sulbar, Ketua DPRD Sulbar yaitu Amalia Fitri Aras beserta Forkopimda setempat.
Tim SOFS mencoba menghubungi salah satu peneliti aktif di perikanan, tanpa menyebutkan nama, beliau menyampaikan kekecewaannya dalam kasus ini pada tim SOFS. Inti kekecewaannya kurang lebih, "Gaada yang benar menurut saya, sudah kelakuannya salah, cara mengutip peraturan tidak jelas. Kemudian staff dan juga semua yang terlibat, saya yakin cuma modal 'siap bapak', tanpa memberi saran dan kajian. Atau jikapun ada, maka saran tersebut tidak digubris". Melanjutkan kekecewaannya, "Lalu dari gubernur sepertinya juga ada tuntutan program, akhirnya cari trobosan 'jalan pintas', bukan inovasi ramah lingkungan, sehingga kajian dalam program begitu dangkal. Manfaat yang diutarakan adalah angan-angan kosong, yang penting terlihat di media dan eksis". Beliau adalah seorang peneliti yang aktif membuat buku dan publikasi ilmiah di perikanan.
Keresahan para peneliti ini, bukan tanpa sebab, mengingat Sulawesi adalah salah satu aset dunia, dengan julukan 'laboratorium evolusi'. Sulawesi memiliki ratusan spesies endemik, dengan sekitar 62 genus endemik, atau dalam artian, spesies dan genus tersebut tidak dapat ditemukan di belahan bumi lain, selain di Sulawesi. Pernyataan ini salah satunya muncul pada publikasi ilmiah Matthew J. Struebig dkk. pada 2022 silam (dapat dilihat di daftar pustaka). Sulawesi begitu terkenal ke penjuru dunia, eksplorasi terutama untuk mengungkap spesies-spesies baru terus dilakukan oleh para peneliti, sebagai contoh hasilnya adalah jenis ikan padi, Oryzias polylepis. Spesies ini baru dipublikasi sebagai spesies baru oleh Jan Möhring dkk., pada 19 Februari kemarin. Potensi perairan Sulawesi, seharusnya tidak hanya dilihat sebatas dari segi ekonomi manusia, yang sebenarnya hanya memicu bahaya laten dari ketidak seimbangan ekosistem di masa depan. Ikan asing, bukanlah isu yang asing di Sulawesi, sebab beredarnya ikan asing, telah membuat beberapa spesies di Sulawesi hilang hingga sekarang, dan jika berbagai eksplorasi tidak mampu menemukan spesies tersebut, maka akan dinyatakan punah dalam waktu dekat.
Ikan nila memiliki nama dagang global sebagai nile tilapia, atau tilapia nil, artinya memang ikan dengan nama latin Oreochromis niloticus ini, berasal dari Benua Afrika. Ikan nila masuk pada keluarga Cichlidae, bersama dengan ikan mujair (Oreochromis mossambicus) dan red devil (Amphilophus labiatus). Seluruh ikan dalam keluarga Cichlidae, merupakan ikan dari luar Asia Tenggara, sehingga masuknya mereka ke kawasan Asia Tenggara, termasuk ke Kepulauan Indonesia secara utuh (Sumatra hingga Papua), adalah fenomena introduksi spesies asing. Anggota keluarga Cichlidae, telah terbukti mampu merusak ekosistem dan mengancam spesies lokal melalui beberapa faktor, yaitu ruang hidup, predasi, ketersediaan pakan, potensi hibridasi dan agen penyakit. Meski potensi hibridasi antara Cichlidae dan ikan lokal di Indonesia rendah, namun hibridasi antar Cichlidae yang lepas ke perairan juga menjadi ancaman tersendiri, seperti banyaknya temuan ikan louhan (umumnya merupakan hibrida beberapa spesies dari Cichlidae) di perairan umum dewasa ini. Telah banyak penelitian dan publikasi ilmiah yang dapat diakses secara umum terkait kerugian ekosistem karena spesies asing, seperti pada publikasi ilmiah Julian R. Wilson dkk. tahun 2019, terkait puluhan parasit bawaan ikan invasif genus Oreochromis.
Sulawesi telah tercatat kehilangan beberapa spesies ikan endemiknya, yang diduga kuat diakibatkan oleh masuknya spesies asing ke perairan liar. Sebagai contoh paling mahsyur, adalah salah satu genus endemik di Sulawesi, yaitu Adrianichthys, satu keluarga dengan spesies baru yang sempat dibahas sebelumnya (O. polylepis), yaitu keluarga Adrianichthyidae. Ikan yang dikenal secara nasional sebagai ikan 'buntingi paruh bebek' dengan nama latin Adrianichthys kruyti, hilang sejak pertengahan tahun 1980'an. Ikan tersebut endemik Danau Poso, dan hilangnya A. kruyti diikuti oleh dua spesies endemik lainnya, yaitu Adrianichthys roseni dan Mugilogobius amadi. Febian Herder dkk. tahun 2022 menyatakan bahwa spesies-spesies endemik itu, diduga kuat hilang akibat adanya spesies introduksi di kawasan tersebut, lengkap dengan parasit bawaannya. Hal tersebut nampaknya telah sukses menurunkan jumlah dan kualitas populasi ikan-ikan lokal di kawasan Danau Poso, bahkan menyebabkan potensi kepunahan, terutama untuk tiga spesies endemik sebelumnya. Inilah chapter baru problematika kualitas SDM VS SDA di Sulawesi, dan mungkin juga Indonesia secara umum. Pembahasan terkait kejanggalan Permen KP yang dimaksud DKP Sulbar, pernah tim SOFS diskusikan, dan akan ditulis lengkap segera. AH
Daftar Pustaka
Herder, F., Möhring, J., Flury, J. M., Utama, I. V., Wantania, L., Wowor, D., ... & Pfaender, J. (2022). More non-native fish species than natives, and an invasion of Malawi cichlids, in ancient Lake Poso, Sulawesi, Indonesia. Aquatic Invasions, 17(1), 72-91.
Wilson, J. R., Saunders, R. J., & Hutson, K. S. (2019). Parasites of the invasive tilapia Oreochromis mossambicus: evidence for co-introduction. Aquatic Invasions, 14, 332-349.
Möhring, J., Mokodongan, D. F., Gani, A., Wowor, D., Annawaty, Böhne, A., & Herder, F. (2025). A New and Unique Species of Ricefish (Teleostei: Adrianichthyidae: Oryzias) from the Lariang River Basin, Sulawesi, Indonesia, and the First Known Sympatric Ricefish Species Pair from Sulawesi Rivers. Ichthyology & Herpetology, 113(1), 61-74.
Struebig, M. J., Aninta, S. G., Beger, M., Bani, A., Barus, H., Brace, S., ... & Supriatna, J. (2022). Safeguarding imperiled biodiversity and evolutionary processes in the Wallacea center of endemism. BioScience, 72(11), 1118-1130.
- https://beritanasional.id/tebar-benih-nila-di-tobadak-ketua-dprd-pj-bahtiar-tanamkan-pondasi-kuat-untuk-kemajuan-sulbar-kedepan/
- https://mamuju.inews.id/read/555708/pj-bahtiar-tebar-30-ribu-benih-ikan-nila-di-bendungan-kalambangan
- https://www.instagram.com/dkp_sulbar/
- https://www.instagram.com/pemprov_sulbar?igsh=MTRwMGEyeXBvb3VteA==
- https://www.berita.sulbarprov.go.id/index.php/agenda/item/8286-dkp-prov-sulbar-sudah-membagi-1-5-juta-bibit-ikan-nila-kepada-warga-sulbar
- https://dkp.sulbarprov.go.id/?p=5028
- https://id.wikipedia.org/wiki/Adrianichthys_kruyti
- https://www.instagram.com/jagasemesta?igsh=ZmwwdTdobjF2eGc4
.png)
.png)
.png)
Comments
Post a Comment