Skip to main content

Pusat Update Revisi Buku CTJV1 (per 24 Mei 2026)

Kami menyadari buku yang kami keluarkan sebagai karya pertama kami yaitu Cyprinidae Tanah Jawa Volume 1 (CTJV1) (gambar 1), masih memiliki kekurangan di beberapa tempat. Hal tersebut kemudian kami sadari dari partisipasi aktif para penikmat dan juga dari proses bedah buku bersama beberapa perwakilan lembaga-lembaga akademisi. Adapun acara tersebut dilakukan pada 21 Mei 2026, dengan pembedah dari Tirthawatch Untirta diwakili saudara Fadhli Rizqia Kamil, IPB SSRS Association diwakili oleh saudari Verawati Ayu Lestari dan Yayasan Spesies Obscura diwakili oleh Dr. Danieal N. Lumbantobing (anggota IUCN SSC IdSSG).  Lembaga panitia sendiri yaitu Tirthawatch Untirta, berada di bawah bimbingan Dr. Muh. Herjayanto yang juga termasuk salah satu dari anggota IUCN SSC IdSSG. Seluruh revisi ini akan kami rangkum kembali di Cyprinidae Tanah Jawa Volume 2 (CTJV2), sehingga pembaca tidak perlu membeli eksemplar revisi CTJV1 secara ganda. Kami berkomitmen untuk selalu responsif dan bertanggung jawab atas informasi yang kami berikan, dengan mendengarkan segala kritik maupun saran, dan melakukan revisi disertai publikasi. Namun untuk mempermudah, maka seluruh revisi di kemudian hari akan cukup dapat dilihat dari laman ini.

Gambar 1. Cover buku CTJV1 yang telah dilaunching sejak 30 April 2026.
 
Revisi pertama kami lakukan pada tanggal 14 Mei 2026, yaitu terkait nama latin brek serayu yang kami klaim sebagai Barbonymus sp. serayuensis. Hal ini kemudian kami revisi sebab penggunaan nama ini tidak sesuai kaidah. Keterangan lengkap dapat dibaca di gambar 2-3:

Gambar 2-3. Edaran resmi detail revisi CTJV1 cetakan pertama per 14 Mei 2016.

Kemudian, kami melakukan revisi lagi pada tanggal 22 Mei 2026, namun kemudian lembar pertama dan kedua pada edaran revisi tersebut memiliki kesalahan redaksional. Hal ini kemudian kami update kembali pada tanggal 24 Mei 2026, dan dapat dilihat pada gambar 4-5:

Gambar 4-5. Edaran resmi detail revisi CTJV1 cetakan pertama per 24 Mei 2016.

Kami berkomitmen untuk terus berkembang, tanpa melepaskan tanggung jawab kami sebagai penulis dalam CTJV1. Segala bentuk tanggapan, kritik dan saran sangat berarti bagi kami, dan dapat disampaikan melalui link kritik dan saran CTJV1, atau melalui nomor WA penulis korespondensi di 089682339836 (Afikri).

Comments

Popular posts from this blog

Clarias batrachus (Linnaeus, 1758) a.k.a. Lele Jawa

      Kesalahpahaman orang terhadap ikan lele, sangat merugikan bagi ekosistem liar. Indonesia memiliki banyak sekali spesies lele lokal, meski jika di Pulau Jawa, sebutan 'lele lokal' sudah semestinya merujuk pada spesies Clarias batrachus . Budidaya spesies ini masih sangat minim, dan dianggap tidak semenguntungkan spesies invasif dari genus yang sama, yaitu lele dumbo atau Clarias gariepinus  dari Afrika. Mari kenali spesies lokal kita lebih dekat secara ilmiah, sebab jika kita tak mengenalinya, maka salam lestari adalah omong kosong. Kita akan mulai dengan klasifikasi dasar dari C. batrachus , yang memiliki nama nasional 'lele jawa'. Klasifikasi Dasar Ordo:      Siluriformes (Lele) Keluarga:     Clariidae (Lele berpernapasan tambahan) Genus:     Clarias Spesies:     C. batrachus Ordo Siluriformes adalah ordo yang menaungi banyak ikan berkumis, meski tak semua ikan berkumis adalah anggotanya, namun secara singkat m...

Mystus singaringan (Bleeker, 1846) a.k.a. Senggaringan

      Sebagian orang, akan mengatakan spesies ini adalah lele, patin ataupun keting, namun secara nasional, Mystus singaringan  dikenal sebagai senggaringan. Nama ini serupa nama lokalnya di beberapa tempat di Pulau Jawa, pastinya dengan variasi penyebutan yang khas di berbagai tempat tersebut. Sebagai contoh, spesies ini dikenal di kota-kota sekitar tempat penulis di Jawa Timur, sebagai 'garingan', 'kebo gerang' dan lain sebagainya, dengan kata dasar yang mirip-mirip dengan senggaringan. Nama ini, termasuk nama spesiesnya, penulis curigai betul memang disesuaikan dengan penyebutan ikan ini di Pulau Jawa, sebab deskripsi awal ikan inipun, menggunakan populasi di Barat Pulau Jawa. Jika disebut lele, ia memang masuk pada ordo Siluriformes, sebagaimana unggahan penulis terkait  Clarias batrachus  sebelumnya. Jika disebut patin, penulis kurang yakin dapat mencari pembenaran, namun keduanya, baik M. singaringan  dari keluarga Bagridae dan patin dari keluarg...

Ordo Elopiformes (Bulan-bulan dan payus)

    Kebanyakan awam kemungkinan akan mengatakan anggota dalam ordo Elopiformes, sebagai ikan bandeng, terutama untuk keluarga Elopidae, yang juga dikenal di beberapa tempat sebagai ikan bandeng lanang. Sebagaimana asas yang harus dilumrahkan dalam perbincangan kita kedepan, bahwa kemiripan fisik tidak selalu mengantarkan kita pada kedekatan kekerabatan antar kelompok. Elopiformes membawahi setidaknya dua keluarga, yaitu keluarga Elopidae atau keluarga ikan payus, dan keluarga Megalopidae atau keluarga ikan bulan-bulan. Ordo ini terbilang kecil, dengan hanya menampung sekitar sembilan spesies di seluruh dunia, dan hanya sekitar tiga spesies yang ada di Indonesia. Dalam kasus ini, spesies dari Megalopidae adalah yang paling sedikit, hanya ada dua spesies di dunia, dan hanya satu spesies di Indonesia. Menariknya, meski mirip dengan bandeng, ordo Elopiformes termasuk dalam superordo Elopomorpha yang menaungi setidaknya tiga ordo lainnya, yaitu Albuliformes (bandeng celurut), Notac...