Skip to main content

Posts

Inkonsistensi Bentuk dan Morph Kerapu Cantang (Epinephelus fuscoguttatus x Epinephelus lanceolatus)

Hibridisasi merupakan sebuah fenomena yang cukup unik, di mana perkawinan berbeda spesies ini cukup panjang dibahas dalam kajian-kajian evolusioner. Umumnya, hibridisasi dilakukan secara buatan untuk mempercepat pengadaan varian unggul secara kualitatif, berdasarkan kalkulasi para pembudidaya. Meski memang hibridisasi juga dapat terjadi secara alami, namun tujuan hibridisasi alami umumnya untuk keuntungan adaptasi salah satu atau kedua spesies tersebut, dalam mempertahankan populasinya. Sejauh ini, laporan hibridisasi kerapu umumnya memang hanya berkutat pada hibridisasi buatan, yang dalam buku "The Origin of Species" karya Charles Darwin, tindakan hibridisasi seperti ini umumnya mengakibatkan efek samping pada hibrida (read: hasil peranakan hibridisasi). Efek samping itu secara mudah saya bahasakan sebagai sterilitas dan inkonsistensi bentuk. Kali ini, kita bersama-sama akan melihat berbagai contoh dari efek samping tersebut, menggunakan satu varian hibrida kerapu yang umum ...

Pusat Update Revisi Buku CTJV1 (per 24 Mei 2026)

Kami menyadari buku yang kami keluarkan sebagai karya pertama kami yaitu Cyprinidae Tanah Jawa Volume 1 (CTJV1) (gambar 1), masih memiliki kekurangan di beberapa tempat. Hal tersebut kemudian kami sadari dari partisipasi aktif para penikmat dan juga dari proses bedah buku bersama beberapa perwakilan lembaga-lembaga akademisi. Adapun acara tersebut dilakukan pada 21 Mei 2026, dengan pembedah dari Tirthawatch Untirta diwakili saudara Fadhli Rizqia Kamil, IPB SSRS Association diwakili oleh saudari Verawati Ayu Lestari dan Yayasan Spesies Obscura diwakili oleh Dr. Danieal N. Lumbantobing (anggota IUCN SSC IdSSG).  Lembaga panitia sendiri yaitu Tirthawatch Untirta, berada di bawah bimbingan Dr. Muh. Herjayanto yang juga termasuk salah satu dari anggota IUCN SSC IdSSG. Seluruh revisi ini akan kami rangkum kembali di Cyprinidae Tanah Jawa Volume 2 (CTJV2), sehingga pembaca tidak perlu membeli eksemplar revisi CTJV1 secara ganda. Kami berkomitmen untuk selalu responsif dan bertanggung jawa...

Keragaman Ikan Invasif di Bengawan Solo

Keragaman ikan-ikan di Bengawan Solo sangat tinggi, namun banyak spesies-spesies asing masuk ke perairan umum sebagai dampak antropogenik. Berbagai jenis ikan invasif tidak dimasukkan dalam peraturan pelarangan oleh kementerian, diduga kuat sebab banyak pihak yang telah membudidayakan ikan-ikan tersebut. Di lain sisi, ikan-ikan tersebut memang telah banyak tersebar dan merusak ekosistem. Beberapa ikan invasif bahkan dikultuskan dan dihormati lebih tinggi dibanding ikan lokal. Potensi Bengawan Solo begitu tinggi, kendati kerusakan yang ia terima tak kalah luar biasa. Bengawan Solo mengular hingga sekitar 600 km jauhnya, menjadikan sungai ini merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa. Sebagai yang terpanjang, tak heran keragaman biota akuatik di dalamnya juga begitu beragam. Ibarat supermarket terbesar di suatu kota, apakah wajar ia hanya menjadi tempat bagi sedikit komoditas? Namun dewasa ini, apakah supermarket lebih banyak menjual produk lokal atau malah kebanyakan produk asing? Satu ...

Ordo Elopiformes (Bulan-bulan dan payus)

    Kebanyakan awam kemungkinan akan mengatakan anggota dalam ordo Elopiformes, sebagai ikan bandeng, terutama untuk keluarga Elopidae, yang juga dikenal di beberapa tempat sebagai ikan bandeng lanang. Sebagaimana asas yang harus dilumrahkan dalam perbincangan kita kedepan, bahwa kemiripan fisik tidak selalu mengantarkan kita pada kedekatan kekerabatan antar kelompok. Elopiformes membawahi setidaknya dua keluarga, yaitu keluarga Elopidae atau keluarga ikan payus, dan keluarga Megalopidae atau keluarga ikan bulan-bulan. Ordo ini terbilang kecil, dengan hanya menampung sekitar sembilan spesies di seluruh dunia, dan hanya sekitar tiga spesies yang ada di Indonesia. Dalam kasus ini, spesies dari Megalopidae adalah yang paling sedikit, hanya ada dua spesies di dunia, dan hanya satu spesies di Indonesia. Menariknya, meski mirip dengan bandeng, ordo Elopiformes termasuk dalam superordo Elopomorpha yang menaungi setidaknya tiga ordo lainnya, yaitu Albuliformes (bandeng celurut), Notac...