Skip to main content

Posts

Navigasi Post Taksonomi

       Menikmati postingan hasil kawin silang antara kepenulisan ilmiah dan jurnalistik dalam blog Scientist of Fisheries Society (SOFS) ini, dapat begitu menyenangkan jika menggunakan navigasi yang baik. Laman ini berisi daftar isi yang lebih urut beserta link, dan juga glossarium atau catatan istilah dalam postingan SOFS. Pembaca dapat menggunakan laman ini sebagai pintu masuk dalam memahami perikanan lebih dalam, bersama para ilmuwan muda di SOFS. Postingan bisa jadi sangat acak, tergantung tim redaksi, dan dibutuhkan waktu yang cukup panjang untuk menyempurnakan pembahasan dalam SOFS. Kolaborasi dan dukungan, sementara ini dapat disampaikan melalui founder sekaligus Pemimpin Redaksi di SOFS, Akhsan Fikrillah Paricahya, S.Pi., M.Si. dengan alamat email akhsanfp@gmail.com terlebih dahulu, kemudian dapat dilanjutkan melalui Whats App setelahnya. Note: Dalam daftar isi, akan ditemukan tanda kode " *utama ", mengindikasikan bahwa post tersebut adalah post pertama dala...

Nila Bukan Invasif, Problematika SDM VS SDA di Sulawesi

    Konflik laten antara kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA), dapat ditinjau dari keputusan para pemangku kebijakan, salah satunya seperti yang akhir-akhir ini terjadi di Sulawesi Barat (Sulbar). Obsesi seorang PJ Gubernur, Bahtiar Baharuddin untuk melepaskan 100 juta ikan nila di perairan liar Sulbar, nampaknya tetap dilakukan, meski dinilai oleh para pemerhati, sangat merusak lingkungan. Senada dengan Bahtiar, berbagai elemen dalam birokrasi Sulbar mengaminkan tindakan merugikan tersebut, mengesampingkan pentingnya ekosistem Sulawesi bagi dunia, dan sejarah kelam hilangnya spesies ikan endemik dikarenakan masuknya spesies asing.       Beberapa hari ini, para pegiat perikanan mulai dari peneliti, akademisi dan pemerhati dari masyarakat umum maupun komunitas, menyoroti postingan akun instagram resmi Humas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Prov. Sulbar, lantaran mengatakan bahwa ikan nila bukanlah spesies invasif, melainkan ikan bernila...

Mystus singaringan (Bleeker, 1846) a.k.a. Senggaringan

      Sebagian orang, akan mengatakan spesies ini adalah lele, patin ataupun keting, namun secara nasional, Mystus singaringan  dikenal sebagai senggaringan. Nama ini serupa nama lokalnya di beberapa tempat di Pulau Jawa, pastinya dengan variasi penyebutan yang khas di berbagai tempat tersebut. Sebagai contoh, spesies ini dikenal di kota-kota sekitar tempat penulis di Jawa Timur, sebagai 'garingan', 'kebo gerang' dan lain sebagainya, dengan kata dasar yang mirip-mirip dengan senggaringan. Nama ini, termasuk nama spesiesnya, penulis curigai betul memang disesuaikan dengan penyebutan ikan ini di Pulau Jawa, sebab deskripsi awal ikan inipun, menggunakan populasi di Barat Pulau Jawa. Jika disebut lele, ia memang masuk pada ordo Siluriformes, sebagaimana unggahan penulis terkait  Clarias batrachus  sebelumnya. Jika disebut patin, penulis kurang yakin dapat mencari pembenaran, namun keduanya, baik M. singaringan  dari keluarga Bagridae dan patin dari keluarg...

Clarias batrachus (Linnaeus, 1758) a.k.a. Lele Jawa

      Kesalahpahaman orang terhadap ikan lele, sangat merugikan bagi ekosistem liar. Indonesia memiliki banyak sekali spesies lele lokal, meski jika di Pulau Jawa, sebutan 'lele lokal' sudah semestinya merujuk pada spesies Clarias batrachus . Budidaya spesies ini masih sangat minim, dan dianggap tidak semenguntungkan spesies invasif dari genus yang sama, yaitu lele dumbo atau Clarias gariepinus  dari Afrika. Mari kenali spesies lokal kita lebih dekat secara ilmiah, sebab jika kita tak mengenalinya, maka salam lestari adalah omong kosong. Kita akan mulai dengan klasifikasi dasar dari C. batrachus , yang memiliki nama nasional 'lele jawa'. Klasifikasi Dasar Ordo:      Siluriformes (Lele) Keluarga:     Clariidae (Lele berpernapasan tambahan) Genus:     Clarias Spesies:     C. batrachus Ordo Siluriformes adalah ordo yang menaungi banyak ikan berkumis, meski tak semua ikan berkumis adalah anggotanya, namun secara singkat m...

Sejarah Pembentukan SOFS (P1)

    Saya Akhsan Fikrillah Paricahya S.Pi. M.Si., seorang yang tertarik dengan ikan sedari kecil. Sebagai pembuka, ketertarikan saya pada ikan telah muncul ketika masih di bangku Sekolah Dasar, dan kebetulan, tak jauh dari SD saya, ada pasar hewan terbesar di kota kelahiran saya, Malang. Seingat saya, sejak kelas 4 SD, saya mulai rutin ke pasar tersebut untuk melihat-lihat ikan, sering bertanya dan jarang membeli, sebab sebagian besar uang saku saya harus digunakan naik angkot pulang-pergi. Rumah saya berjarak sekitar 11 km dari SD, tidak mungkin saya jalan kaki tiap hari, meski sesekali saya berjalan dari terminal ke rumah untuk menghemat ongkos Rp. 1.500,-, jaraknya sekitar 2 km. Dari pasar tersebut, sebab jarang bisa membeli, jawaban-jawaban pedagang menjadi hal paling sering saya bawa pulang. Ketika telah masuk ke bangku Sekolah Menengah Pertama, saya bergabung dalam komunitas penghobi ikan, yang saat itu belum seramai sekarang. Saya mulai mengesampingkan ilmu lama saya dar...